8 Juli 2009

Karena Aku Peduli

Beberapa orang, terutama masa remaja menuju kedewasaan, sering kali karena pengaruh lingkungan, lantas mempunya pemikiran bahwa merokok, minum arak, berkata kasar/kotor, memakai narkoba, menikmati hiburan malam sebagai tanda sudah dewasa. Merasa hebat, beberapa sangat bangga dengan keadaannya yang seperti itu.

Sebenarnya pemikiran seperti itu salah, sejak kapan merokok bisa disimbolkan sebagai tanda kejantan-an seorang lelaki, sejak kapan meminum minuman arak dianggap sebagai sesuatu hal yang keren?

Bagaimana pun juga, moralitas masyarakat manusia sedang berjalan terbalik, mundur kebelakang, bukannya semakin menuju kejayaan, melainkan sedang berjalan menuju suatu kebinasaan. Hal-hal yang terwujud disekeliling kita sesungguhnya kebanyakan adalah hal-hal yang "kotor". Lantas banyak yang berpikir, Kemanakah Tuhan saat ini? Sebenarnya kita tidak boleh mencari keluar, kita selayaknya mencari kedalam diri sendiri, untuk apa dari kecil kita belajar agama, filosofi, ilmu pengetahuan, dsb?

Justru pada kondisi seperti ini, kita harus sadar akan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Melawan arus kemerosotan moralitas masyarakat manusia, tumbuh keatas, layaknya bunga Lotus yang menjulang keatas dari lingkungannya yang kotor.

Ciri-ciri kedewasaan seseorang sesungguhnya adalah kedewasaan seseorang dalam melihat permasalahan, melakukan keputusan dengan bijaksana, melakukan hal-hal positif untuk lingkungan sekitar, meraih prestasi pada bidangnya, dengan demikian menjadi suatu kebanggaan tersendiri dalam diri sendiri. Mengharumkan nama orang tua, yang telah membesarkan kita menjadi pribadi yang dewasa.

Sebaliknya, dengan terjerumus ke-kehidupan negatif, hanya akan membuat hancur masa depan kita sendiri, menyumbat mati jalan kehidupan, menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan yang Maha-Kuasa.

Semoga Bermanfaat ^_^

3 Juli 2009

Kembali Membaca Zhuan Falun

Buku Zhuan Falun ("Memutar Roda Falun") ini mengajarkan hukum secara sistematis dan lengkap, terutama dalam aspek moral spiritual. Dengan mempergunakan bahasa umum yang sederhana dan mudah dimengerti, digabung dengan ilmu pengetahuan sekarang, dibicarakanlah suatu prinsip kebenaran alam semesta secara luas dan mendalam.

Buku ini membahas mengenai fenomena Qigong, kenyataan dari kebudayaan kultivasi aliran Buddha dan Tao, mengungkapkan berbagai misteri dari alam semesta, ruang dan waktu, melukiskan bentuk keberadaan dan sumber kehidupan; seperti, "Apa makna sebenarnya dari keberadaan manusia? Mengapa manusia harus menderita, harus ada bencana dan ada kebahagiaan? Mengapa latihan Qigong dapat mencapai efek penyembuhan penyakit, dll.

Berikut salah satu contoh kutipan yang membahasa tentang asal usul manusia :

Alam semesta adalah memang baik, yakni memiliki karakter Zhen - Shan - Ren (Sejati-Baik-Sabar), dan ketika manusia dilahirkan punya sifat yang sama dengan alam semesta. Tetapi ketika makhluk berjiwa itu sudah tercipta banyak, berkembang pula suatu hubungan sosial yang kolektif. Sebagian di antaranya mungkin bertambah sifat egoisnya, tingkat mereka berangsur-angsur mulai merosot sehingga tidak dapat bertahan pada tingkat itu, dan mereka harus jatuh ke bawah. Tetapi pada tingkat lain tersebut, mereka kembali menjadi tidak baik lagi, sehingga tidak dapat bertahan dan jatuh lagi lebih lanjut, dan akhirnya jatuh ke dalam tingkat yang dihuni umat manusia ini.

Segenap masyarakat manusia berada pada tingkat yang sama. Setelah jatuh pada tingkat ini, ditinjau dari perspektif kemampuan Gong (energi kultivasi), atau ditinjau dari perspektif Sang Maha Sadar, sebetulnya makhluk berjiwa tersebut sudah harus dimusnahkan. Namun berkat belas kasih para Sang Maha Sadar, diberikanlah kesempatan sekali lagi kepada mereka sehingga terbentuk suatu lingkungan khusus, ruang khusus semacam ini. Sedang makhluk berjiwa yang berada dalam ruang ini tidak sama dibandingkan makhluk berjiwa yang berada pada segenap ruang dari alam semesta, makhluk berjiwa dari ruang ini tidak dapat melihat makhluk berjiwa yang berada di ruang lain, tidak dapat melihat wajah asli dari alam semesta, itu berarti orang-orang ini telah jatuh dalam kesesatan. Bila ingin sembuh dari penyakit, menyingkirkan kesengsaraan, melenyapkan karma, orang-orang ini harus Xiulian (kultivasi), balik ke asal kembali ke jati diri yang asli, demikianlah pandangan dari berbagai cara Xiulian. Keinginan balik ke asal kembali ke jati diri yang asli baru merupakan tujuan sebenarnya dari menjadi seorang manusia, oleh karena itu ketika seseorang ingin Xiulian, sifat ke-Buddha-annya dianggap sudah muncul. Niat inilah yang paling berharga, karena ingin balik ke asal kepada jati diri yang asli, ingin melompat ke luar dari tingkat manusia biasa.

-Kutipan dari Ceramah 1-

Buku ini dapat diperoleh di toko buku atau Gramedia, atau juga bisa didapatkan secara gratis dengan mendownload dari situs falundafa.or.id (Indonesia) / falundafa.org (International).

1 Juli 2009

Sarjana Dibidang ITC

Perkembangan ITC belakangan ini yang terlalu cepat, membuat seluruh dunia seakan-akan dikuasi oleh penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. ITC menjadi salah satu unsur kebutuhan manusia modern.

Ilmu tentang ITC dapat diperoleh dengan mudah melalui buku, kursus, majalah, artikel, internet, dan berbagai media lainnya. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa tidak perlu kuliah/sekolah ITC, karena ilmu dan skill dapat dipelajari tanpa harus kuliah/sekolah.

Memang benar demikian, bahkan lulusan dari sekolah/universitas IT terkenal sekalipun bukan jaminan bahwa lulusan tersebut dapat melakukan pekerjaannya dengan baik di dunia ITC. Sebagian besar masih tidak sebagus dengan senior yang telah lama berkecimpung didunia IT.

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, mengapa kita duduk dibangku kuliah diwajibkan untuk mempelajari cara penulisan ilmiah? Mempelajari teori-teori yang mendasar, mempelajari manajemen TI, membuat studi literatur, membuat proposal yang baik dan benar, menganalisa sistem, meracang, mengimplementasikan, melakukan uji coba sistem, melakukan penulisan laporan dan sebagainya, semua harus terdokumentasi dengan baik. Inilah yang menjadi nilai tambah dari para lulusan Sarjana TI.

Tidak belajar penulisan ilmiah, bagaimana bisa membuat proposal? Ada kesempatan juga tidak bisa anda raih apabila tidak tahu cara membuat proposal sampai penulisan laporan penelitian. Akhirnya kesempatan pun jatuh ketangan orang lain, padahal dari segi kualitas ilmu TI yang anda miliki belum tentu kalah.

Selain itu, dengan duduk dibangku kuliah, kita mendapatkan dasar-dasar ilmu ITC, konsep-konsep, membangun pondasi, sehingga tidak ada usaha yang sia-sia selama duduk dibangku perkuliahan.

Julvendra (2009)