Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan

2 Mei 2010

Sekilas Mengenai Confucius

Confucius/孔子/Kongzi (551 BCE – 479 BCE) adalah seorang tokoh besar yang menanam akar ajarannya di negeri Cina 2500 tahun yang lalu yang sampai saat ini masih mempengaruhi pemikiran sebagian besar masyarakat Cina dan sekitarnya. Ajaran Confucius adalah tentang bagaimana menciptakan keharmonisan dalam kehidupan, yaitu diantaranya mengenai standar moral pemerintah dan rakyat, hubungan keluarga, hubungan sosial, keadilan dan ketulusan hati dalam melakukan semua itu.

Adalah sesuatu yang tidak mudah mengubah pemikiran, adat dan tradisi yang turun temurun dari generasi ke generasi pada masa apapun dan mengubahnya ke jalan yang benar. Didalam film Confucius yang diperankan Chow Yun Fat, ada beberap hal yang menampilkan Confucius dalam mengubah persepsi pola pikir masyarakat pada masa itu, seperti melawan tradisi kerajaan yang membunuh keluarga dan pembantu-pembantunya untuk ikut mati bersama tuannya, tetapi Confucius mengatakan membunuh adalah tetap membunuh (berbuat dosa), walaupun itu dilakukan berdasarkan adat dan tradisi. Contoh yang kedua adalah memenangkan pertikaian tanpa harus mengorbankan nyawa.

Dikatakan bahwa selama masa penjabatan Confucius dalam negeri Lu, kehidupan masyarakatnya hidup tentram dan tidak ada kejahatan, bahkan sepanjang jalan tidak ada penjahat, karena itu Confucius dianggap paling berpengaruh pada waktu itu lebih daripada ajaran Legalisme dan Taoisme. Walaupun demikian, didalam kisah Confucius tidak pernah melupakan pertemuan Confucius dengan Lao Zi (dikenal sebagai pendiri Taoisme) dan menerima beberapa paham Taoisme dari Lao Zi tentang hukum alam semesta berdasarkan Taoisme.

Bagaimana ajaran Confucius bisa menjadi agama yang dikenal dengan Confucianisme (儒家)? Masyarakat Cina sendiri mengakui Confucius ibarat seorang Nabi, karena itu tidak sedikit yang menyebutnya Nabi Kongzi. Ajaran Confucius adalah ajaran yang harmonis antara bumi dan langit, dengan demikian dikatakan sesuai dengan hukum langit (kehendak langit). Confucianisme bukanlah ajaran yang tidak mengenal sang Pencipta, melainkan karena Confucius telah mengenali diri, alam dan sang Pencipta, karena pemahamannya yang begitu luas bahkan dikatakan tidak ada yang tidak diketahui Confucius. Bagaimana ajaran Confucius menjadi sebuah agama? karena Confucianisme melakukan tradisi dalam kehidupan spiritual, atau mengikuti tatacara pelaksanaan religius secara formalitas. Kebanyakan agama di dunia ini adalah sama demikian, karena itu disebut sebagai agama, karena mengikuti tatacara atau tradisi religius.

Bagaimana dengan penganut Confucianisme di Indonesia? Menurut saya, Confucianisme di Indonesia adalah dibawa oleh para leluhur suku Tionghua dari negeri Cina yang telah berbaur dengan Buddhisme, mayoritas penganut Confucianisme adalah suku Tionghua. Generasi sekarang, walaupun umumnya mengatakan agama dan keyakinan mereka adalah Confucianisme (Kunghucu), pada dasarnya (umumnya) mereka tidak mempelajari ajaran-ajaran Confucius, karena itu saya merasa sangat tidak pantas menganggap diri sebagai Confucianisme (agama Konghucu). Umumnya Confucianisme di Indonesia hanya melaksanakan sembahyang pada leluhur, Dewa, dan sang Pencipta. Sebuah agama tidak dinilai dari adat dan tradisi, melainkan dinilai dari kebaikan ajarannya, itulah berkah yang sesungguhnya. Seseorang tidak dapat disebut sebagai seorang pemeluk, sedangkan tidak mengetahui makna ajaran agama yang dianut.

Referensi: Wikipedia dan inspirasi.

20 April 2010

Keindahan

Keindahan menjadi milik usia muda, tapi keremajaan yang untuknya dunia ini diciptakan tidak lebih dari sekadar mimpi yang manisnya diperhamba oleh kebutaan yang menghilangkan kesedaran.

Akankah hari itu datang, ketika orang-orang bijak menyatukan kemanisan masa muda dan kenikmatan pengetahuan?

Sebab masing-masing hanyalah kosong bila hanya sendirian.

Akankah hari itu datang ketika alam menjadi guru yang mengajar manusia, dan kemanusiaan menjadi buku bacaan sedangkan kehidupan adalah sekolah sehari-hari?

Hasrat masa muda akan kesenangan-kenikmatan tidak terlalu menuntut tanggung-jawab hanya akan terpenuhi bila fajar telah menyelak kegelapan hari.

Banyak lelaki yang tenggelam dalam keasyikan hari-hari masa muda yang mati dan beku;

banyak perempuan yang menyesali dan mengutuk tahun-tahun tak berguna mereka seperti raungan singa betina yang kehilangan anak;

dan banyak para pemuda dan pemudi yang menggunakan hati mereka sekadar sebagai alat penggali kenangan pahit masa depan, melukai diri melalui kebodohan dengan anak panah yang tajam dan beracun kerana kehilangan kebahagiaan.Usia tua adalah permukaan kulit bumi;

ia harus, melalui cahaya dan kebenaran, memberikan kehangatan bagi benih-benih masa muda yang ada dibawahnya, melindungi dan memenuhi keperluan mereka hingga Nisan datang dan menyempurnakan kehidupan masa muda yang sedang tumbuh dengan kebangkitan baru.

Kita berjalan terlalu lambat ke arah kebangkitan spiritual, dan perjalanan itu seluas angkasa tanpa batas, sebagai pemahaman keindahan kewujudan melalui rasa kasih dan cinta kepada keindahan tersebut.

- Khalil Gibran

21 Maret 2010

Inspirasi Di Minggu Pagi

Saya membayangkan suatu hari Tuhan yang disebut-sebut sebagai Yang Maha Esa, Maha Mutlak, Maha Kuasa, Maha Sempurna, dsb datang ke dunia manusia karena inilah kesempatan terakhir bagi umat manusia, kesabaran Tuhan telah mencapai batas, dan Dia telah bosan melihat dunia manusia, manusia berubah semakin egois, semakin rakus, semakin bejat (bejat: keinginan seksual overlimit), makin lama semakin menjauh dari jalan keTuhanan.. Jadi Tuhan datang ke dunia manusia untuk melihat apakah masih ada yang mengenal-Nya...

Tuhan pun menjelma menjadi manusia, karena bila Dia mengambil wujud-Nya yang Agung, manusia dan dewa yang punya seribu dosa tak terampuni pun pasti akan langsung mengenal-Nya. Jadi Tuhan pun mengambil wujud yang sama dengan manusia, sebagai manusia biasa. Saya pun membayangkan kira-kira apa yang akan Tuhan temui sepanjang jalan melihat dunia yang dikasihi ini?

"Dasar manusia, telah kuberikan alam yang indah dan sejuk, semua sumber daya alam, tapi kalian malah tidak bersyukur, malah saling memperebutkan dan merusak apa yang telah Ku-berikan" (gumamnya dalam hati).

Tetapi Tuhan tidak mengambil hati, karena alam manusia yang kecil ini (bila dibandingkan dengan alam-alam lainnya dalam jagat raya) adalah tidak menjadi masalah bagi-Nya, suatu hal yang sepele bagi Tuhan untuk memperbaiki alam yang sedang merusak ini. Bahkan bila perlu musnahkan sampai ke atom-atomnya dan dicipta ulang saja, dan itu berarti menjadi hari kiamat bagi kita semua.

Kemudian Tuhan pun memasuki sebuah kota... (saya pun membayangkan semakin jauh lagi)... kira-kira apa lagi yang akan Tuhan temui dalam kota? Karena Tuhan adalah Maha Belas Kasih, jadi Dia pun bermaksud mencoba membimbing orang-orang yang dia temui, lalu Tuhan pun mengajarkan "sedikit" tentang "Kebenaran", agar orang-orang yang memahaminya bisa mendapatkan manfaat setelah mendengar tentang "Kebenaran" ini. Tetapi apa yang Tuhan dapatkan? Kira-kira seperti ini komentar orang-orang setelah mendengarkan "sedikit" "Kebenaran" yang disampaikan Tuhan:

- "Hahahaha!! hanya orang bodoh yang mau percaya kata-katamu!! sungguh lucu!", kata seseorang yang telah buta iman.

- "Halah! hidup gue, suka-suka gue dong? peduli amat sama orang (padahal dia juga orang)", kata seorang lagi yang cuek pisan.

- ”Apa hebatnya? Saya juga pandai membuat kata-kata seperti itu”, kata pemuka agama.

- "Apaan ini? Kamu menyebarkan ajaran seset! Kamu akan masuk Neraka!" kata seorang penganut awan yg fanatik.

- "Hmm..! kata-katamu masuk akal, tapi adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan orang", kata seorang umat biasa.

- "Wah,, kata-katamu ini sangat bagus sekali. Tetapi apa keuntungannya dulu? Iya ngak?", kata seorang juragan.

Hanya sedikit yang benar-benar memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan, tetapi secara umum mereka mengatakan apa yang dikatakan tersebut masuk akal, tetapi sangat tidak mungkin untuk dijalani. Yang hatinya sesat malah menghujat perkataan-Nya. Yang berniat jahat malah bermaksud mencelakai-Nya. Karena Tuhan belum menemukan orang yang bisa mengenali-Nya tsb, maka Dia pun berlalu dari kota itu ke kota lain. Hanya mereka yang taat menjalankan sila dan melatih moral saja yang sanggup Menyadari, bahwa itu adalah perkataan seorang Suci.

-----------------------------------------------------

Inspirasi Pagi Di Hari Minggu - 21 Maret 2001, sebelum berangkat ke Vihara setor muka.

Tidak ada maksud buruk atau apapun yang berhubungan dengan SARA, hanya sebatas lamunan kilat seorang anak domba.

Salam Sehat dan Sejahtera Selalu.

2 Maret 2010

Budhisme - Mengenai Ritual dan Tradisi

1. Ritual

Seorang murid yang bernama Punnaka bertanya kepada Sang Buddha, "Mengapa orang-orang bijak di dunia ini, seperti para pendeta, pemimpin, dan lainnya, selalu mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa?"
Jawab Sang Buddha, "Mereka mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa karena sewaktu bertambah tua mereka ingin mempertahankan hidup mereka seperti sekarang dan supaya selalu beruntung."

 "Tetapi, o Buddha, apakah persembahan tersebut akan ada pengaruhnya pada usia tua?"
"Segala doa, pujian, persembahan, serta harapan mereka dilakukan berdasarkan rasa ingin memiliki, imbalan, dan kerinduan akan kenikmatan. Mereka yang ahli berdoa ini ingin terus berada dalam keadaan menjadi. Tetapi, semua itu tidak ada pengaruhnya pada usia tua."

"Katakanlah kepadaku, o Buddha, bila semua persembahan dari para ahli itu tidak membawa mereka melampaui usia tua, lalu siapa yang pernah melampauinya?"
Sang Buddha pun berkata, "Bila seseorang telah benar-benar memahami dunia ini dari atas hingga bawah, bila tak ada apa pun lagi di dunia ini yang mengacaukannya, maka ia telah menjadi orang yang bebas dari rasa binggung, takut, gemetar, dan hawa nafsu. Ia telah melampaui usia tua dan melampaui kelahiran dan kematian".
(Sutta Nipata)

2. Tradisi

Magandiya bertanya kepada Sang Buddha, "Bagaimanakah pandanganmu dan apakah jalan hidup serta tujuan masa depanmu?"
Sang Buddha menjawab, "Dengan mempelajari semua pendapat yang digengam erat oleh orang-orang, aku tidak berkata bahwa 'aku menyatakan ini' atau 'aku menyatakan itu'. Dengan mengamati semua pendapat manusia tanpa merengkuhnya, aku mencari kebenaran dan menemukan kedamaian batin."

"Namun, bagaimana caranya seorang bijak menggambarkan kedamaian batin yang kau temukan tanpa mengacu kepada suatu sistem pemikiran untung-untungan, tanpa mengambil satu pendapat manusia dengan tanpa merengkuhnya?" tanya Magandiya.
"Seseorang tidak mencapai kedamaian lewat spekulasi, tradisi, pengetahuan, ritual, atau sudut pandang tertentu. Namun kedamaian juga tidak dapat dicapai tanpa bantuan hal-hal tersebut. Dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai sarana dan bukan merengkuhnya sebagai tujuan itu sendiri, seseorang bisa menemukan kedamaian dan kejernihan."

"Tetapi bila kau berkata bahwa kejernihan tidak dapat dicapai lewat tradisi dan sudut pandang tertentu serta tidak dapat dicapai tanpa hal-hal ini, maka menurutku bicaramu hanya omong kosong," sanggah Magandiya, "Kebanyakan orang berpendapat bahwa kejernihan muncul dari suatu sudut pandang."

"Karena tetap berpegang pada sudut pandangmu sendiri, engkau terus-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini," sahut Sang Buddha. "Engkau terobsesi dengan arti-arti yang kau tahu sebelumnya dan memegangnya erat-erat. Menurutku, engkau tidak mendengar dengan baik apa yang kukatakan kepadamu. Karena itulah engkau menganggap perkataanku sebagai omong-kosong. Kau mencari keunggulan. Padahal, tidak ada lagi yang unggul, setara, atau lebih lemah bagi orang yang telah menemukan kejernihan. Sebab, Untuk apa orang bijak adu pendapat dengan mengatakan bahwa 'ini benar' atau 'ini bohong'? Dan bila ia tidak memiliki pemikiran tentang kesetaraan atau ketidaksetaran, dengan siapa ia akan berdebat?

"Orang yang mengembara dengan bebas di dunia, bebas dari segala pendapat dan sudut pandang, tidak merengkuh pendapat dan sudut pandang itu serta tidak jatuh pada perselisihan dan perdebatan. Seperti teratai yang mekar Pada tangkainya tanpa dikotori lumpur dan air, begitu pula orang bijaksana berbicara tentang kedamaian, ia tak ternoda oleh pendapat dunia."
(Sutta Nipata)

Pesan Sang Buddha (Gotama), dalam kutipan Kalama sutta, yang menjadi dasar cara berpikir Buddhis:
Jangan percaya begitu saja pada sesuatu yang anda dengar.
Janganlah percaya begitu saja pada suatu tradisi, karena telah berlangsung untuk banyak generasi.
Janganlah percaya pada sesuatu yang sedang dibicarakan dan didesas-desuskan oleh banyak orang.
Janganlah percaya begitu saja pada sesuatu karena telah tertulis dalam kitab-kitab agama.
Janganlah percaya begitu saja sesuatu yang diucapkan gurumu atau orang-orang yang lebih tua.
Akan tetapi, Setelah diobservasi dan dianalisa, bahwa sesuatu itu sesuai dengan akal sehat dan membawa kebaikan dan keberuntungan bagi Anda dan semua orang, terimalah hal itu dan hiduplah sesuai dengannya.
Buddha (Anguttara Nikaya, I, 188-193 PT S. ED)

*)kesalahan terjemahan dari bahasa Pali ke bahasa Indonesia bisa saja mengurangi makna/arti yang sebenarnya, mohon dimaklumi, sabbe satta bhavantu sukhitatta.

17 Januari 2010

Membaca Buku Secret Life Of Water - Masaru Emoto

Masaru Emoto adalah seorang Doctor yang menemukan kejaiban pada air, dan telah berhasil membuktikan sebuah fakta bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan alam, dan alam akan menunjukkan reaksinya.

Dari semua buku Masaru Emoto yang saya baca, beliau selalu mengaitkan sifat air dengan sifat alam dan kaitannya dengan jiwa manusia;
Memang benar, air adalah bagian dari alam semesta, air adalah sumber kehidupan, dan dalam tubuh seorang manusia dewasa sebanyak 70% adalah tersusun dari air.

Saya tidak merasa heran, mengapa hanya dengan memahami air, Masaru Emoto dapat memahami sifat alam, karena memang semua elemen dan unsur-unsur yang ada dalam alam semesta mempunyai keterkaitan, dan banyak yang bisa kita pahami dari alam diluar batas ilmu pengetahuan.

Tentang Kebahagiaan:

Semua orang mencari kebahagiaan, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang yang sudah berusia lanjut. Hanya saja beberapa tidak dapat memahami dengan jelas, memahami lebih dalam apa kebutuhan dari jiwa yang sesungguhnya, dan Kita sering kali menganggap dunia materialist kehidupan sebagai hal yang yang bisa membuat jiwa kita bahagia, benarkah demikian?

"Ketika kita mulai membandingkan kita dengan orang lain, kita mulai beresonasi dengan hado ketidakbahagiaan. Selama kita masih mencari kebahagiaan dari luar diri kita, maka tidaklah mungkin kita menemukan kebahagiaan sejati".

Banyak yang selalu suka membanding-bandingkan dengan orang lain, padahal pada kenyataannya setiap orang mempunyai ciri khas masing-masing, tidak ada yang tercipta sama, kecuali mirip. Manusia tidak akan pernah puas memenuhi nafsu dan kehendaknya, karena alam semesta ini adalah sesuatu yang tidak terbatas bagi mereka yang mempunyai pola berpikir demikian. Ketika kita bisa menerima dan menyatu dengan alam, kita baru dapat menerima segala kebaikan dari alam.
Cara yang terbaik untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menggali potensi pada diri sendiri, terbebas dari apa yang orang ragukan dari Anda.

"Pencarian kebahagiaan pada akhirnya dan sederhananya adalah pencarian diri. Anda dapat mencari kebahagiaan sampai ketempat-tempat yang jauh, tapi Anda tetap akan menemukannya di telapak tangan Anda sendiri"

Benar, hal yang menentukan bahagia/tidak bahagia tergantung pada diri sendiri, bukan sebaliknya mencari kebahagiaan dari luar, karena ia hanya akan bersifat sementara.

Tentang Percobaan yang dilakukan pada nasi:

"... kami menaruh nasi ke dalam tiga stoples kaca, kemudian kepada salah satu stoples itu kami berkata, "Bodoh!", kepada stoples lain kami berkata, "Terimakasih", dan kepada stoples ketiga kami tidak mengatakan apa-apa. Nasi yang kami taruh di stoples yang mendapat ucapan "Terimakasih" mengalami peragian serta mengeluarkan aroma yang enak. Nasi di dalam stoples yang mendapat ucapan "Bodoh!" menjadi berwarna gelap dan membusuk. Nasi di dalam stoples yang tidak mendapat ucapan apapun menjadi berwarna hitam serta menebarkan bau yang sangat menyengat"

"Tetapi itu bukan akhir dari cerita, saya membawa ketiga stoples tersebut ke sebuah sekolah dasar dan murid-murid disitu mengucapkan "Terimakasih" kepada nasi di dalam semua stoples. Dalam waktu yang tak terlalu lama, nasi di dalam ketiga stoples itu mengalami peragian dan mulai menebarkan aroma sedap--bahkan nasi yang sebelumnya didiamkan".

"Hal itu menunjukkan bahwa sesuatu yang sedang sekarat dan membusuk pun dapat dihidupkan atau dipulihkan kembali oleh perhatian penuh kasih yang tulus, kata-kata yang menyejukkan serta pikiran positif".

Dari hasil percobaan yang dilakukan Masaru Emoto, membuktikan sesuatu hal yang kemarin pernah saya bahas dengan Jevvy Audy, tentang mengapa bila bumi adalah kotor dan berdosa, Tuhan tidak memusnahkannya. Karena Tuhan lebih mengetahui sifat alam, terbukti dari percobaan objektif diatas.

Namun ada hal yang saya pahami lebih jauh mengenai hasil percobaan tersebut, adalah bila nasi diibaratkan dengan umat manusia, kata "Terimakasih" diibaratkan sebagai "Kebenaran/Jalan Ketuhanan", kata "Bodoh" yang ditujukan kepada nasi sehingga membuat nasi hitam dan membusuk diibaratkan dengan iblis, maka bisa dibayangkan hasil/output dari umat manusia tersebut, karena saya percaya segala sesuatu akan menjadi indah bila kita diberikan jalan untuk menelusuri "Kebenaran".

Saya ingat sebuah pernyataan dari dalam buku Zhuan Falun, yang mengatakan, "manusia ibarat sebuah wadah, apa yang terisi itulah yang terefleksikan keluar". Dan sebenarnya saya merasakan bahwa pernyataan tersebut tidak hanya berlaku untuk manusia, melainkan juga berlaku untuk setiap elemen dan molekul dari alam. Kita dapat merasakan hal tersebut dari berbagai macam cara, dan cara yang sering saya lakukan adalah menghirup udara dengan perasaan yang gembira, maka Anda akan merasakan energi dari molekul halus tersebut masuk dan menelusuri pembuluh darah. Sedangkan cara yang dilakukan Masaru Emoto adalah dengan mengambil secangkir air minum, lalu berkata dengan halus kepada air, "Saya mencintaimu" dan "Terimakasih", lalu meminumnya, dan ketika saya mencobanya saya merasakan air itu menjadi sejuk dan masuk keperut, energinya menjadi berlipat ganda. Ia adalah apa yang diisikan, itulah yang terefleksi yang saya pahami dari sudut lain. Apabila kita ingin bahagia, maka isilah hal-hal yang positif kedalam pikiran, baik itu musik, perkataan, motivasi, dsb sehingga gelombang yang terpancarkan melalui pikiran dapat menjadi lebih baik, dan suasana pun dapat berubah menjadi lebih baik.

Anda tidak akan menyesal membeli dan membaca buku Secret Life Of Water

Salam, 
by Sakidaka.

25 Desember 2009

Mencoba Memahami Secuil Kecil Kualitas Buddha Gotama

-Memetik sebagian kecil dari buku yang menceritakan secuil kecil tentang sifat dan kualitas seorang Buddha Gotama, pendiri Agama Buddha 2500 tahun silam-

"Elok nian tarian ketika sebuah sitar disetel;
Disetel tidak tinggi tidak rendah,
Dan kami akan menari menghibur hati manusia.

Senar yang disetel terlalu tegang putus,
dan musik pun melayang;
Senar yang terlalu longgar sia-sia, dan musik pun mati;
Setelah sitar bagi kami tidak tinggi tidak rendah."

Maka menyanyilah para penari mengikuti tiupan pipa bansuli dan petikan senar-senar tersebut. Buddha mengangkat kening yang memancarkan keagungan itu manakala orang-orang tidak bermoral itu berlalu, dan bersabda:
"Mereka yang bodoh terkadang mengajarkan sesuatu kepada mereka yang bijaksana; aku menarik dawai kehidupan ini begitu ekstrem, barangkali, karena bermaksud membuat musik yang seperti tadi. Kedua mataku mengabur untuk melihat kebenaran, kekuatan tubuhku berkurang dratis sehingga kebutuhan adalah utama; apakah aku masih tertolong seperti seseorang yang membutuhkan pertolongan sesamanya, karena kematian akan merenggut hidupku, kehidupan seseorang yang menjadi harapan semua manusia." (menceritakan seorang Buddha tidak keras kepala).

Setelah Sujata memberi makanan yang berkhasiat sehingga Siddharta Gotama memperoleh kekuatannya kembali dan kehidupan kembali seolah-olah malam-malam penantian dan hari-hari puasa telah berlalu sekadar mimpi. (menceritakan bahwa menyiksa diri, berpuasa, tidak akan memberi solusi dalam mencapai penerangan).

roda dharma buddhisme

Malam pun tiba, manakala Siddharta Gotama bersemedi merenung di bawah Pohon tersebut. Akan tetapi dia sang Pangeran Kegelapan, Mara--demi mengetahui betapa sang Buddha yang akan membebaskan manusia, dan sekarang adalah waktunya ketika ia akan menemukan Kebenaran dan menyelamatkan dunia-dunia--memberi perintah kepada semua balatentara kejahatan. Maka lihatlah dari segenap lubang kelam paling dalam balatentara kejahatan, setan-setan yang selalu memerangi Kebijaksanaan dan Cahaya, Arati, Trishna, Raga dan para pembantu-pembantu mereka, hawa nafsu, ketakutan, ketidakacuhan, hasrat badani, anak-anak kekelaman dan teror;

Semua pembenci Buddha, yang berupaya sekuat tenaga menggoncangkan pikirannya; tanpa menyadari, tanpa mengetahui sedang berhadapan dengan dia yang terbijaksana, setan-setan laknat dari neraka ini bertempur sepanjang malam supaya Kebenaran luruh dari hadapan Sang Buddha: terkadang dengan hujan teror yang paling keji, gemuruh balatentara kegelapan yang mengendarai angin bak awan-awan berarak dengan guntur dan luapan cahaya membutakan mata dalam tombak cahaya yang kasar mengerikan, jingga, dari langit yang tersobek;

terkadang dengan tip daya dan kata-kata yang terdengar manis di telinga, diantara desah dedaunan dan kelembutan aliran udara memunculkan bentuk-bentuk rupawan memabukkan pikiran; lagu-lagu yang mendayu-dayu, bisikan-bisikan percintaan mesra; terkadang dengan teror keraguan dasyat, yang membuat kebenaran sia-sia.

Lalu sepuluh Dosa utama datang--para pembantu utama Mara, para malaikat kejahatan--mula-mula Attavata, dosa diri, yang di Alam Semesta sebagaimana di dalam cermin melihat wajahnya yang terlihat itu, dan berseru "Aku", akan membuat dunia berkata "Aku", dan segenap hal lenyap jikalau ia menang.

"Andaikan engkau memang sang Buddha," katanya, "biarkan yang lain mencari-cari tanpa cahaya; cukuplah bila Engkau adalah Engkau yang tak berubah; bangkit dan renggutlah puncak ekstase para dewa yang tiada berubah, tiada berperasaan dan tiada berjuang sedikitpun."
Tetapi Buddha bersabda,"Yang benar bagimu adalah kejahatan, yang salah adalah sebuah kutukan; pergilah menipu mereka yang hanya mencintai diri sendiri."

Lalu melintaslah Keraguan, dia yang menyangkal--Dosa cemooh--dan ia mendesis di telinga sang Buddha, "Semua hal adalah sekadar tipuan mata, dan sungguh kenaifan pengetahuan akan tipu daya mereka; engkau hanya mengejar bayangan dirimu semata; bangun dan pergilah segera, tidak ada jalan yang lebih baik daripada menanggung cemooh, tidak ada pertolongan untuk manusia, tidak layak pula niat menetap dalam pusaran roda yang berputar ini."
Tetapi jawab sang Buddha, "Engkau tidak ada sangkut-pautnya denga aku, Visikitcha si raja palsu! Musuh-musuh manusia yang paling samar!"

Setelah it datanglah dia yang kekuatannya adalah memberi kepercayaan-kepercayaan menyesatkan silabbata-para-masa, wanita penyihir, yang menyamar di banyak negeri sebagai Iman yang rendah hati, tetapi selalu memanipulasi jiwa-jiwa dengan ritus dan doa-doa; para penjaga kunci Neraka-Neraka dan pembuka gerbang Surga-Surga. "Apakah engkau berani" tanya dia, "menyingkirkan kitab-kitab suci kami, menggulingkan segala tahta para dewa kami, mengosongkan semua kuil kami, mengguncang hukum yang memberi makan kepada para pendeta dan menopang kerajaan-kerajaan?"
Tetapi jawab sang Buddha, "Apa yang engkau minta aku jaga adalah bentuk yang akan lenyap berlalu, tetapi Kebenaran sejati tetap berdiri; kembalilah ke kegelapan yang menjadi rumahmu."

Kemudian adalah giliran seorang Penggoda yang berani, Kama, Kaisar segala hawa nafsu, yang berjalan dengan gagah, yang telah banyak menyimpangkan kedewaan para dewa, Tuan atas segala cinta, penguasa kerajaan kenikmatan. Sambil tertawa dia datang ke pohon itu sembari memegang busur emasnya yang dibungkus dengan kembang-kembang warna merah, dan anak-anak panah keinginan yang di ujungnya terpasang api halus lima lidah, yang menyengat hati yang ia gigit:

dan di sekeliling dia hadirlah ketempat yang terpencil itu sekelompok bentuk mempesona dengan mata dan bibir bak malaikat surga sambil menyanyikan kata-kata indah memuja Cinta, mengikuti alunan musik nada-nada manis, begitu magis penuh pesona sihir. Belum ada pertunjukan yang begitu indah, yang kian lama kian mendekati Pohon Bodhi, sambil berbisik "Oh Siddharta yang Agung! Aku adalah milikmu, rabalah mulut ini dengan sepasang mulutmu dan rasakan betapa manis kemudaan!"


Tidak ada yang dapat menggoyahkan pikiran sang Buddha, Astaga! Kama mengibaskan busur ajaibnya dan sebuah bentuk, tak terperikan cantik dan anggun maju perlahan mengenakan wajah dan tubuh Yasodhara. Lembut sepasang pelupuk mata penuh harap itu bergenang air mata; sambil mengulurkan kedua tangan membuka hendak memeluk sang kekasih kalbu, memanggil-manggil nama Siddharta, seraya menarik nafas panjang, merayu-rayu sang Buddha agar kembali padanya dalam kebahagiaan dan kenikmatan.

Tetapi kata Buddha, "Demi kemanisan dia yang engkau coba perankan, bayangan palsu memabokkan! Engkau melakukan hal yang sia-sia; aku mengutuk engkau bukan sebagai yang mengenakan sebuah bentuk yang begitu indah, namun engkau sebagai bayangan-bayangan keduniawian. Melelehlah kembali ke kekosongan aslimu!"

Dibawah langt yang mulai menggelap dan suara guruh dari kejauhan, datanglah Dosa-Dosa yang lebih keji, yang paling kejam di antara kesepuluh Dosa; Patigha--Kebencian--ular-ular yang melingkar menjijikkan di seputar pinggangnya, mengisap susu beracun dari sepasang puting yang berjuntai-juntai di dadanya, dan dengan kutukan-kutukannya, ia mencampur desisan marah ular-ular piaraannya itu. Lalu mengikuti di belakangnya adalah Ruparaga--Nafsu hari-hari-- dosa seksual, keserakahan akan kehidupan;

dan disampingnya adalah Nafsu Kemasyuran, Aruparaga yang lebih mulia, dia yang dengan mantranya menyesatkan mereka yang bajik, ibu perbuatan-perbuatan heroik, pertempuran dan kerja keras. Dan Mano si tinggi hati juga tiba, penguasa Rasa Bangga; dan Kebenaran Diri yang lemah-lembut, Uddhachcha;

dan--dengan ditemani banyak pengikut, wujud-wujud tanpa bentuk dan menjijikan yang melata-lata dan melompat-lompat seperti katak dan kelelawar - Ketidakacuhan, Ibu Ketakutan dan Kesalahan, Avidya, seorang wanita tua buruk rupa dan jahat, yang jejak-jejak kakinya membuat tengah malam kian hitam, sementara gunung-gunung yang tertanam kuat dan bumi terguncang, angin-angin yang meniup liar melolong, awan-awan yang tercabik-cabik beku kehilangan aliran hjan yang bercahaya halus; para Penguasa Neraka dari seribu Tempat Penantian memimpin bala tentara mereka untuk menggoda iman sang Buddha.

Tetapi sang Buddha tak sedikitpun bergerak, duduk berwibawa dengan keutamaan sempurna yang mendinding menjadi segenap gerbang dan tangga sebuah benteng pertahanan; begitu juga Pohon Suci - Pohon Bodhi - yang tidak tergugah di tengah lautan gemuruh suara, malahan setiap daun mengeluarkan sinar gemerlapan seakan di musim purnama tiada hembusan angin sepoi-sepoi yang membawa butir-butir embun; karena semua hiruk-pikuk ini tertahan lingkaran teduh dedaunan yang dibentuk dahan-dahan yang saling merajut:

Di malam ketiga,-- bumi memendam semua suara, para balatentara neraka sudah melarikan diri,-- Siddharta Gotama mencapai Samma-sambuddha.

"Banyak rumah kehidupan
telah menahan aku - mencari dia yang menciptakan
segenap penjara indra-indra ini, yang penuh sesak
dengan kesengsaraan;
getir tak terkira perjuangan tak kenal kata mundur ini!

Tetapi sekarang,
wahai engkau pembangun tabernakel ini - ya engkau!
aku mengenal engkau! Jangan pernah kau bangun lagi dinding-dinding penderitaan ini,
jangan bangkitkan lagi pohon dusta yang lebat itu,
jangan letakkan penyangga-penyangga atap
yang baru pada bata itu.

Rumahmu sudah dihancurkan, dan
tiang utamanya tiada bertahan lagi!
Semua sekadar ilusi!
Dari tempat itu aku berlalu
selamat mencapai pembebasan."

source: Ajaran-Ajaran Klasik Sang Buddha -- bag. Kitab Ke Enam.

-----------------------------
* tulisan yang lengkap dapat diperoleh dari buku Ajaran-Ajaran Klasik Sang Buddha, penulis Li Yutang

21 Juli 2009

Penyesalan Seorang Terrorist

Aku besar di lingkungan yang tidak mengakui keberadaanku. Tatkala teman-teman bermain bola bersuka ria, aku hanya duduk menonton di pinggir lapangan. Tubuhku yang kecil serta pembawaanku yang pendiam dan pemurung membuat teman-teman tak mengindahkan kehadiranku. Padahal, tahukah mereka bahwa Ibuku tiada sempat mendidik dan memperhatikanku di rumah, karena keseharian membanting tulang bekerja menyambung hidup, semenjak Ayah yang tak kukenal siapa gerangan meninggalkan kami untuk wanita lain pada saat aku masih bayi.

Masa kecil sampai remaja kulalui tanpa ada pengakuan cukup atas keberadaanku, baik di rumah maupun di antara teman-teman.

Sampai suatu hari, seseorang bermata tajam datang menghampiriku. Lalu ia bertanya lugas kepadaku,"Maukah engkau memberi arti bagi hidupmu? Mari, ikuti jalanku!!". Saat itu aku berusia 17 tahun, dikucilkan oleh lingkunganku. Tanpa ragu, kusambut ajakan dan uluran tangannya. Kuikuti jalannya.

Ternyata ada beberapa pemuda lain di kediamannya. Beberapa kali seminggu aku diharuskan datang ke tempatnya. Ia mengharuskanku dan yang lainnya memakai baju-baju kebesaran serta memelihara atribut-atribut tertentu di tubuhku. Ia dogmatir diri kami, bahwa ajaran kami adalah yang paling benar, bahwa dunia dan segala isinya sudah dalam penyimpangan serta harus dimurnikan kembali. Rasa kebersamaan karena tidak mendapat pengakuan dari dunia luar, membuat kami terdogma bahwa kamilah yang paling benar, dan dunia selain kami memang telah tersesat. Atribut-atribut yang kami pakai dan pelihara, membuat kami merasa sebagai sepasukan kecil yang akan berjihad menyelamatkan dunia dari keangkaramurkaan. Kamilah pahlawan penyelamat bumi! Pasukan Tuhan di dunia ini!! Demi Tuhan, kami akan korbankan nyawa dengan keyakinan ganjaran surga!!!

Suatu hari, ia memanggil diriku. Ia katakan bahwa telah tiba waktunya aku berperan serta menyelamatkan dunia. "Kau bawalah peledak ini, pergilah ke suatu tempat dimana budak-budak Iblis banyak bersemayam. Tumpaslah mereka dengan pengorbanan cucuran darahmu! Semoga surga menjadi ganjaranmu!", ia bersabda sambil menatap tajam ke mataku.

Esok paginya, aku pergi membawa peledak. Mati di jalan Tuhan dan janji surga menggelorakan jiwa dan raga, walau dengan pengorbanan nyawa.. karena aku salah satu pasukan Tuhan penyelamat dunia.

Buuuuuuuumm!!! Duaaarrr!! Ahhhh!!! Sakiiitttt!! Tolongggg!!!
Suara berdentum menggelegar terdengar diikuti teriak kesakitan dan minta tolong. Aku melihat potongan tangan dan kakiku bercampur baur dengan potongan-potongan tubuh dan ceceran darah budak-budak Iblis di tempat itu, yang tercerai berai dan luluh lantak karena peledak yang kuranselkan di punggung.

Lalu semua gelap..aku akan masuk surga...

Tiba-tiba aku merasa panas dan kesakitan tiada tara di sekujur tubuhku. Kala kubuka mata, kulihat api meliputi diriku. "Ini bukan surga!! Ini adalah neraka dalam penggambaran di ajaran yang aku terima!! Mengapaa?? Panaaass.. Sakiiitt.. Ampuun Tuhan-Ku!! Apa salahku? Aku adalah pasukan-Mu di muka bumi.. mengapa Engkau murkai aku???".

Lalu terdengar suara menggelegar,"Hai, keturunan Adam yang tersesat...mari kuperlihatkan padamu hasil perbuatan yang engkau telah akibatkan pada alam dunia!!"

Orang-orang masih berkerumun di tempat yang kuledakkan. Kulihat seorang Ibu muda bersama 2 anak kecil laki-laki dan perempuan menangisi jasad cerai berai seseorang berbaju SATPAM. Ia menjerit pilu,"Pak.. bapak.. mengapa kau tinggalkan kami? Bagaimana kami bisa melanjutkan kehidupan ini?? Siapa yang akan menafkahi kami??" Lalu kulihat masa depan mereka, di mana ibu muda tadi mati gantung diri karena derita hidup. Si anak laki-laki masuk penjara di usia 20 tahun karena melakukan perampokan dan pembunuhan. Sedangkan si anak perempuan kulihat sedang duduk termenung di sebuah komplek pelacuran, menyesali nasib mengapa ditinggal ayah tumpuan keluarga ketika kecil, sehingga ia harus menjadi pelacur untuk menyambung hidup.

Kemudian kulihat sebuah pesawat membawa pergi jasad seorang budak Iblis berambut pirang ke negara asalnya. Sesampainya di sana, seluruh sanak keluarga menangisi kepergiannya yang begitu tragis. Tak lama kemudian datang seorang pemuka agama mereka bersama anak-anak kecil. Sebelum pemakaman, pemuka agama itu membacakan obituary,"...dengan kepergian bapak, dunia kehilangan seseorang yang sangat bertanggungjawab kepada keluarga dan lingkungan.. seseorang yang amat dermawan, dengan puluhan anak yatim piatu yang dipeliharanya selama ini..". Benarkah orang berambut pirang itu adalah budak Iblis??. Lalu kulihat di masa depan puluhan anak yatim piatu tersebut harus kehilangan mimpinya menjadi seorang terpelajar. Banyak dari mereka akhirnya menjadi gembel yang mengharap belas kasihan orang lain.

Lalu kulihat ibu berhenti bekerja dan sedang sekarat karena sakit. Apa hubungannya dengaku?? Rupanya ledakan itu berdampak luas. Investor asing beramai-ramai menarik uangnya dari negaraku. Ibuku ternyata bekerja di salah satu pemasok pada tempat yang aku ledakkan, yang telah menarik investasinya dan menutup tempat itu. Pemasok tempat ibu bekerja pun tutup, karena tempat itu pasar satu-satunya, dan otomatis ibu kehilangan pekerjaannya. Kini ibu tidak punya uang dan meranggas sekarat tanpa bisa berbuat apapun.

"Apa yang kau lihat, Hai keturunan Adam?? Apa kau telah sadari hasil perbuatanmu??", Suara Itu kembali menggelegar.

Aku hanya tergugu, lalu menangis pilu.. "Bakarlah..bakarlah raga ini, wahai Suara Yang Tersembunyi. Biar ia menjadi sangit cermin nista diri"

Ternyata apa-apa yang kuanggap benar selama ini mengakibatkan hasil seperti itu. Merasa diri yang paling benar dan berbangga atas hal tersebut adalah justru suatu keangkaramurkaan. Dan keangkaramurkaanku telah menimbulkan penderitaan dan keangkaramurkaan yang tak pernah terpikirkan oleku. Sungguh aku ikhlas menjalani pemurnian di tempat yang kukenal bernama neraka.

Tak lama kemudian, aku melihat ia yang mengajakku juga diselimuti api di sampingku. Mata nyalangnya kini guram dan sayu..kemudian tergugu menangis pilu. Kini kami sama rata dan sama rasa di tempat pemurnian ini.

Satu yang telah kami sadari.. suatu perbuatan yang dilandasi karena merasa paling benar, hanya akan menimbulkan penderitaan dan keangkaramurkaan di muka bumi. Menyesal, kami terlambat menyadarinya...


From :
Catatan Muhammad Iqbal
Renungan Ledakan Bom JW Marriot & Ritz Carlton
12:43, 17 Juli 2009
Lebak Bulus

Didalam melakukan segala sesuatu sudah semestinya memikirkan apa akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatan kita, karena kita manusia beragama, dalam melakukan sesuatu harus memikirkan orang lain terlebih dahulu untuk menghindari karma buruk.

Isi surat menjadi pelajaran sejarah agar tidak terulang lagi di tanah air kita tercinta.

-Semoga semua makhluk hidup berbahagia-

Yin Yang

Konsep Yin Yang dari TAO ini sangat masuk logis, jadi iseng-iseng saya mencoba membaca tulisan orang lain tentang Yin Yang, seperti ini:

Yin Yang adalah filsafat dualisme dari Taoism.
Merupakan lambang dan pengertian simbolis dari Alam semesta dan kehidupan (TAO).

Yin Yang Earth

Perwujudannya di dunia ini a.l :
1. Didunia ada hal yg saling bertentangan: panas & dingin
2. Didunia ada hal yg berpasangan: kiri & kanan
3. Didunia ada hal yg muncul karena perbandingan: besar & kecil, depan & belakang
4. Didunia ada siklus: siang & malam

Salah satu kurikulum pembinaan diri kaum Tao adalah berusaha memahami alam semesta. Dan hukum Yin Yang adalah merupakan penggambaran alam semesta.

Alam semesta memang digambarkan bersifat 'Yin & Yang' tetapi sebenarnya juga bukan Yin Yang. Misalnya Matahari:
Ketika menghidupkan padi sepertinya matahati bersifat 'baik'
Tetapi ketika 'memanggang' manusia di padang pasir sepertinya matahari bersifat 'jahat'.
Padahal sebenarnya matahari tidak baik dan tidak jahat.

Sifat baik dan jahat dari alam semesta hanya sebatas pemahaman sudut pandang manusiawi saja.
Alam semesta 'berjalan sesuai 'hukumnya', itulah TAO.

Segala sesuatu di Alam semesta mengandung beberapa tingkatan YIN dan YANG. Didalam YANG, ada sedikit YIN; sebaliknya didalam YIN, ada sedikit YANG.

Jadi arti dari YIN-YANG sangatlah luas , YIN dan YANG bersama-sama membentuk TAO, Jalan, prinsip keabadian langit dan bumi: Alam semesta, yang kehidupan dan napasnya adalah CH'I. YIN dan YANG saling tergantung satu sama lain dan memberikan arti bagi keberadaan manusia. Tanpa gelap- tak ada Cahaya. Tanpa panas- tak ada dingin. Tanpa kematian-tak ada kehidupan. Tanpa Diam- tak ada gerakan.

YIN dan YANG terus berinteraksi dan membuat perubahan. Musim panas memberikan jalan bagi musim dingin...yang kemudian memberikan jalan bagi musim panas lagi. Malam mengikuti siang. Bulan mengikuti matahari. Kegelapan mengikuti terang dan seterusnya....

copas dari : http://www.wihara.com/forum/tri-dharma/375-yin-yang.html
referensi photo: www.syti.net/TAO/Tao_YinYangEarth2.jpg

Berdasarkan pemahaman pribadi: Yin Yang merupakan unsur yang eksis dalam segenap alam semesta, saling bergantung satu sama lain, menciptakan eksis dari ketidak eksis-an.

Contoh nyata: Apabila semua orang 'baik', maka tidak eksis kata 'jahat', lalu 'baik' itu sendiri menjadi tidak eksis, apabila semua terlahir cantik, maka 'cantik' itu juga tidak eksis.

Semoga bermanfaat,
-Vendra, manusia yang mencoba memahami alam-

^_^

9 Juli 2009

Percaya Pada Agama

Pagi ini saya membaca kembali buku Ceramah "Fa" (*Dharma/Hukum) Los Angeles 1999 yang dibawakan Shifu Li-Hongzhi. Sebelumnya telah saya baca 2 tahun yang lalu. Berikut salah satu kutipan yang menurutku merupakan Jawaban yang selalu menjadi pertanyaan banyak orang :

Dahulu didalam agama banyak orang berkata, asalkan anda percaya pada agama, anda akan dapat naik ke langit, masuk surga; asalkan anda percaya pada agama anda akan dapat menjadi Buddha. Saya katakan itu adalah menipu orang. Apa yang disebut menjadi Buddha? Apa yang disebut masuk surga?

Setiap tingkat terdapat tuntutan yang berbeda bagi kehidupan. Sama seperti kalian bersekolah, bila anda kelas satu, anda harus mempunyai standar kelas satu, anda kelas dua harus mempunyai standar kelas dua, sesampainya kelas menengah tentu ada standar kelas menengah. Anda selalu membawa buku pelajaran SD, dengan standar kelas satu anda lalu masuk universitas, anda masih tetap adalah murid SD, maka anda juga tidak dapat masuk universitas, demikianlah yang dimaksud. Ini dibicarakan dari permukaan, yang kita maksud adalah benar-benar mencapai kriteria ini dari dalam lubuk hati, dengan demikian anda baru dapat masuk surga, anda baru dapat mencapai kesempurnaan.

Ada orang yang percaya pada agama, saat berdoa sangat tulus; saya telah berbuat kesalahan… Tetapi, begitu keluar rumah dia tetap melakukan kesalahan yang sama, doanya jadi sia-sia, hatinya belum benar-benar berubah. Dia beranggapan dirinya sudah percaya, sudah berdoa maka dapat masuk surga. Anda senantiasa berdoa, senantiasa berada pada standar ini, maka anda selamanya juga tidak dapat masuk surga.

Yang dikatankan Yesus; “Percayalah padaku maka kau dapat masuk surga”, tidak berarti anda telah berdoa padanya, dalam hati anda percaya padanya, dengan bentuk formalitas semacam ini lalu dapat masuk surga, bukan demikian. Melalui tiap kali berdoa anda tidak lagi melakukan kesalahan yang sama, anda berbuat makin lama makin baik, anda makin lama semakin mendekati tuntutan dari surga Yesus, dengan demikian anda baru dapat mencapai standar surga, itu baru disebut benar-benar percaya. Jika tidak, untuk apa Yesus mengucapkan begitu banyak perkataan? Bukankah tujuannya agar anda berbuat menurut perkataannya, berbuat semakin baik? Yang saya katakan adalah demikian maksudnya. Agama sekarang, termasuk pula agama Buddha, orang-orang tidak berkultivasi ke dalam hati, semuanya menempuh bentuk formalitas, semua itu adalah palsu. Masalah ini cukup dibicarakan sekian saja.

Pemahaman pribadi : Kita yang harus menolong diri sendiri, bukan agama yang menolong kita. Apabila kita tidak ingin berubah, maka agama pun tidak akan sanggup merubah kita menjadi prilaku yang baik sesuai standar surga.

3 Juli 2009

Kembali Membaca Zhuan Falun

Buku Zhuan Falun ("Memutar Roda Falun") ini mengajarkan hukum secara sistematis dan lengkap, terutama dalam aspek moral spiritual. Dengan mempergunakan bahasa umum yang sederhana dan mudah dimengerti, digabung dengan ilmu pengetahuan sekarang, dibicarakanlah suatu prinsip kebenaran alam semesta secara luas dan mendalam.

Buku ini membahas mengenai fenomena Qigong, kenyataan dari kebudayaan kultivasi aliran Buddha dan Tao, mengungkapkan berbagai misteri dari alam semesta, ruang dan waktu, melukiskan bentuk keberadaan dan sumber kehidupan; seperti, "Apa makna sebenarnya dari keberadaan manusia? Mengapa manusia harus menderita, harus ada bencana dan ada kebahagiaan? Mengapa latihan Qigong dapat mencapai efek penyembuhan penyakit, dll.

Berikut salah satu contoh kutipan yang membahasa tentang asal usul manusia :

Alam semesta adalah memang baik, yakni memiliki karakter Zhen - Shan - Ren (Sejati-Baik-Sabar), dan ketika manusia dilahirkan punya sifat yang sama dengan alam semesta. Tetapi ketika makhluk berjiwa itu sudah tercipta banyak, berkembang pula suatu hubungan sosial yang kolektif. Sebagian di antaranya mungkin bertambah sifat egoisnya, tingkat mereka berangsur-angsur mulai merosot sehingga tidak dapat bertahan pada tingkat itu, dan mereka harus jatuh ke bawah. Tetapi pada tingkat lain tersebut, mereka kembali menjadi tidak baik lagi, sehingga tidak dapat bertahan dan jatuh lagi lebih lanjut, dan akhirnya jatuh ke dalam tingkat yang dihuni umat manusia ini.

Segenap masyarakat manusia berada pada tingkat yang sama. Setelah jatuh pada tingkat ini, ditinjau dari perspektif kemampuan Gong (energi kultivasi), atau ditinjau dari perspektif Sang Maha Sadar, sebetulnya makhluk berjiwa tersebut sudah harus dimusnahkan. Namun berkat belas kasih para Sang Maha Sadar, diberikanlah kesempatan sekali lagi kepada mereka sehingga terbentuk suatu lingkungan khusus, ruang khusus semacam ini. Sedang makhluk berjiwa yang berada dalam ruang ini tidak sama dibandingkan makhluk berjiwa yang berada pada segenap ruang dari alam semesta, makhluk berjiwa dari ruang ini tidak dapat melihat makhluk berjiwa yang berada di ruang lain, tidak dapat melihat wajah asli dari alam semesta, itu berarti orang-orang ini telah jatuh dalam kesesatan. Bila ingin sembuh dari penyakit, menyingkirkan kesengsaraan, melenyapkan karma, orang-orang ini harus Xiulian (kultivasi), balik ke asal kembali ke jati diri yang asli, demikianlah pandangan dari berbagai cara Xiulian. Keinginan balik ke asal kembali ke jati diri yang asli baru merupakan tujuan sebenarnya dari menjadi seorang manusia, oleh karena itu ketika seseorang ingin Xiulian, sifat ke-Buddha-annya dianggap sudah muncul. Niat inilah yang paling berharga, karena ingin balik ke asal kepada jati diri yang asli, ingin melompat ke luar dari tingkat manusia biasa.

-Kutipan dari Ceramah 1-

Buku ini dapat diperoleh di toko buku atau Gramedia, atau juga bisa didapatkan secara gratis dengan mendownload dari situs falundafa.or.id (Indonesia) / falundafa.org (International).

3 April 2009

Melihat Relik Buddha

Apa itu Relik? Secara ringkas Relik dapat di jelaskan dengan sisa jasad/jasmani Buddha setelah dikremasikan. Namun dalam pameran kali ini yang saya lihat beberapa diantaranya mempunyai materi yang mungkin sama dengan Sarira. Sarira adalah istilah generik untuk "Buddha relik", walaupun dalam pemakaian umum istilah tersebut biasanya mengacu ke jenis mutiara atau kristal seperti titis-benda yang ditemukan di antara kremasi abu dari Buddha.

Relik ini sepengetahuan saya adalah materi-materi yang mengandung energi yang dikumpulkan oleh seorang kultivator dari alam semesta dan dikumpulkan didalam Dan nya (posisi Dan 2 jari kebawah dari pusar), Mereka membuka cakra dengan cara ini, setelah cukup maka akan di ledakkan dan mengguncang seluruh tubuh sang kultivator (disebut dengan Terbuka Kesadaran), biasanya kultivator yang sampai ke tahap ini tubuhnya telah suci.


Relik mendapatkan tempat yang sangat terhormat dalam dunia Buddhis sejak awal tarikh Buddhis, lebih dari 2500 tahun. Hingga saat ini Relik Buddha selalu disimpan dan sangat dihormati oleh segenap umat Buddha karena Relik ini menjadi bukti sejarah bahwa di dunia ini benar-benar pernah lahir seorang manusia besar yang mencapai kebuddhaan dengan usahanya dan membawa pencerahan bagi dunia. Beberapa negara menyimpan Relik Buddha dalam stupanya yang terkenal, seperti Relik Gigi Buddha di Istana Kandy, Sri Lanka dan di Beijing, China; Relik Rambut Buddha di Shwe Dagon Pagoda, Myanmar, dan sebagainya.

Puja relik Buddha kali ini terasa istimewa karena hadirnya Relik Buddha dari 3 negara yang mayoritas rakyatnya beragama Buddha, hadirnya Sangharaja (pimpinan tertinggi para bhikkhu) negara Kamboja yang membawa Relik Aset Kerajaan Kamboja, dan juga bhikkhu-bhikkhu senior dari SriLanka dan Thailand. Kesempatan memuja Relik Buddha sangat jarang terjadi. Hanya mereka yang benar-benar punya karma baik yang akan memiliki kesempatan ini, Memuja Relik Guru Agung Buddha Gotama, juga Relik Arahat Sariputra, Relik Arahat Moggallana dan Relik Arahat Sivali.

Rencananya keuntungan dana dari kegiatan Puja Relik Buddha ini akan dipergunakan untuk pembiayaan Program PATRIA Peduli yang punya kegiatan pokok antara lain anak asuh, pemberian bingkisan peralatan sekolah bagi siswa berprestasi dan pemberian bantuan buku perpustakaan bagi sekolah kurang mampu.

Berikut gambar - gambar Relik Buddha :

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/1/10/Relics_of_Shakyamuni.jpg

(Gb. Relik Buddha Sakyamuni pada wikipedia)


Free Image Hosting at www.ImageShack.us

(Gb. Relik Ananda, Lama Tsongkhapa, dan 500 Arahat)

Sebenarnya masih ada sangat banyak Relik lainnya, seperti Relik Arahat Kondanna, Sariputra, Maudgalyayana, Rahula, Buddha Milarepa, serta Lama-Lama Tibet yang berhasil mencapai tingkat kesucian Buddha lainnya, tetapi akan lebih baik apabila anda melihatnya sendiri, karena kesempatan seperti ini jarang ada. ^_^

24 Maret 2009

Sumpah Teratai

Putri Yasodhara mengundang Buddha Sakyamuni, Kaludayi, Nagasamala dan Ibu ratu untuk makan bersama di istananya. Setelah mereka selesai makan, dia lalu mengundang mereka untuk menemaninya pergi ke sebuah desa kecil miskin tempat ia bekerja dengan anak-anak. Rahula juga bergabung dengan mereka. Yasodhara memandu mereka menuju pohon jambu air tua tempat Buddha mengalami meditasi pertamanya ketika masih kecil. Sang Buddha memikirkan betapa kejadian itu serasa baru terjadi kemarin padahal dua puluh tujuh tahun sudah berlalu. Pohon itu tumbuh jauh lebih besar selama sekian puluh tahun.

Atas permintaan Yasodhara, banyak anak miskin berkumpul di sekitar pohon itu. Yasodhara memberitahukan Sang Buddha bahwa anak-anak yang pernah di jumpai beliau puluhan tahun silam sekarang sudah pada menikah dan punya keluarga masing-masing. Anak-anak yang ada di bawah pohon berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Ketika melihat Buddha tiba mereka berhenti bermain lalu membentuk dua baris untuk Beliau berjalan di tengahnya. Sebelumnya Yasodhara sudah menunjukkan mereka cara menyalami Sang Buddha. Mereka menaruh sebuah kursi bambu khusus di bawah pohon untuk Bhagawa dan menghamparkan tikar untuk alas duduk Ratu Gotami , Yasodhara dan dua orang bhikkhu itu.

Buddha merasa bahagia duduk di sana. Beliau mengenang kembali hari-hari yang pernah di lalui-Nya bersama anak-anak miskin desa Uruvela. Beliau menceritakan kepada anak-anak itu tentang Svasti , si pengembala kerbau dan Sujata , gadis remaja yang memberi-Nya susu segar. Beliau membabarkan tentang menumbuhkembangkan hati yang penuh cinta-kasih dengan cara memperdalam pengertian.

Buddha mengisyaratkan Rahula untuk duduk di hadapan-Nya. Lalu beliau menceritakan anak-anak sebuah kisah kehidupan lampau :

Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Megha di kaki pegunungan Himalaya. Dia adalah pemuda baik dan rajin. Kendati tak punya uang, dengan penuh keyakinan pergilah dia ke ibukota untuk belajar. Dia hanya berbekal sebatang tongkat untuk berjalan, sebuah topi, sekendi air, pakaian yang di kenakannya, serta sebuah mantel. Sepanjang perjalanan, ia berhenti dan bekerja di berbagai ladang untuk mendapatkan nasi dan terkadang uang. Sewaktu tiba di ibukota Divapati, dia sudah mengumpulkan lima ratus rupe.

Ketika dia memasuki kota, tampaknya penduduk sedang mempersiapkan suatu perayaan penting, ingin tahu perayaan apa, ia pun melihat sekeliling guna mencari orang untuk di tanyai. Pada saat itu , melintaslah seorang gadis cantik di hadapannya. Gadis itu sedang memegang sebuah karangan bunga teratai yang setengah mekar.

white lotus
Megha bertanya kepadanya, "Numpang tanya dik, ada perayaan apakah hari ini ?"

Gadis itu menjawab, "Engkau pasti orang asing di Divapati, kalau bukan, engkau pasti tahu hari ini Guru yang tercerahkan Dipankara sudah datang. Beliau dikatakan bagaikan sebuah obor yang menerangi jalan bagi semua makhluk. Beliau adalah putra Raja Arcimat yang berkelana mencari jalan Sejati dan telah menemukan-Nya. Jalan Beliau menerangi seantero dunia hingga masyarakat menyelenggarakan perayaan ini untuk menghormati beliau."

Megha sangat gembira mendengar kehadiran seorang guru yang telah tercerahkan. Ingin sekali ia mempersembahkan sesuatu untuk guru itu dan memohon menjadi murid-Nya. Bertanyalah ia kepada gadis itu, "Seharga berapakah engkau beli bunga-bunga teratai itu ?"

Gadis itu menatap Megha dan dengan mudah dapat melihat bahwa ia adalah seorang pemuda cerdas yang penuh perhatian. Gadis itu menjawab, "Aku hanya membeli lima tangkai saja. Dua tangkainya lagi aku petik dari kolam di rumahku sendiri."

Megha bertanya, "Berapa uang yang engkau keluarkan untuk lima tangkai itu ?"

"Lima Ratus Rupe."

Megha meminta untuk membeli lima tangkai teratai dengan lima ratus rupenya untuk di persembahkan ke Guru Dipankara. Tapi gadis itu menolak dengan berkata, "Aku membeli bunga ini untuk di persembahkan kepada beliau. Aku tidak bermaksud menjualnya kepada orang lain."

"Megha mencoba membujuknya, "Tapi engkau kan masih bisa mempersembahkan dua tangkai yang kau petik dari kolammu sendiri. Mohon ijinkanlah aku membeli lima tangkai. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Guru. Sungguh satu kesempatan langka yang sangat berharga dapat menjumpai Guru sekaliber itu dalam kehidupan ini juga. Aku ingin menemui Beliau dan bahkan memohon untuk menjadi murid-Nya. Jika engkau mengijinkan aku membeli lima tangkai terataimu itu, aku akan sangat berterima-kasih kepadamu untuk seluruh sisa hidupku."

Gadis itu menatap ke tanah dan tidak menjawab.

Megha membujuknya, "Jika engkau mengijinkan aku untuk membeli lima tangkai teratai itu, aku akan melakukan apa saja yang kau pinta."

Gadis itu tampak tersipu-sipu malu. Lama dia tidak mengangkat pandangannya dari tanah. Akhirnya, ia pun berkata, "Aku tidak tahu jodoh apa yang terjalin di antara kita di kehidupan lampau. Yang jelas aku jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama. Kujumpai banyak pemuda namun belum pernah hatiku bergetar seperti ini. Akan kuberikan teratai-teratai ini kepadamu untuk di persembahkan kepada Yang Tercerahkan, tapi hanya jika engkau berjanji kepadaku bahwa di dalam kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan kita selanjutnya, aku akan menjadi istrimu."

Dia mengucapkan kata-kata tersebut dengan tergesa-gesa sehingga setelah selesai hampir saja ia kehabisan nafas. Megha tak tahu apa yang harus di katakannya. Setelah hening sejenak, iapun berkata, "Engkau sangat istimewa dan jujur sekali. Waktu melihat dirimu, akupun merasakan sesuatu yang khusus dalam hatiku. Tapi aku mencari jalan menuju pembebasan. Jika menikah tak akan bebas kutelusuri jalur itu saat kesempatan yang tepat menampakkan diri."

Gadis itu menjawab, "Berjanjilah bahwa aku akan menjadi istrimu dan aku bersumpah ketika tiba waktunya bagi dirimu untuk mencari jalurmu, aku tak akan mencegahmu pergi, sebaliknya aku akan melakukan segala yang kumampu untuk membantumu sepenuhnya mencapai pencarianmu."

Dengan bahagia Megha menerima usulannya dan bersama berangkatlah mereka mencari Guru Dipankara. Massa begitu padat sehingga mereka hampir tidak dapat melihat beliau di depan sana. Walaupun hanya dapat memandang wajah beliau sekilas saja, tapi sudah cukup bagi Megha untuk mengetahui bahwa beliau benar-benar adalah Yang Telah Tercerahkan. Megha merasakan kegembiraan yang luar biasa dan bersumpah bahwa suatu hari dirinya pun akan mencapai pencerahan tersebut. Ingin sedekat mungkin ia menghampiri agar dapat mempersembahkan Guru Dipankara bunga teratai, tapi mustahil baginya untuk bergerak maju melalui lautan manusia. Tak tahu apa yang harus di lakukan, ia pun melemparkan bunga-bunga itu ke arah Guru Dipankara. Secara ajaib sekali teratai-teratai itu mendarat tepat di tangan Sang Guru. Megha begitu gembira melihat betapa tulus hatinya terbukti. Gadis itu meminta Megha untuk melemparkan bunganya ke arah Sang Guru. Dan dua tangkai teratai itu juga mendarat di tangan Sang Guru. Guru Dipankara berseru, meminta pihak yang mempersembahkan bunga teratai untuk menampakan diri. Massa membelah diri memberikan jalan untuk Megha dan gadis itu. Megha mengandeng tangan Sang Gadis. Bersama mereka membungkuk hormat di hadapan Guru Dipankara. Sang Guru menatap Megha lalu berkata, "Aku memahami ketulusan hatimu, dapat kulihat engkau memiliki keteguhan hati yang besar untuk menelusuri jalur spritual guna mencapai penerangan sempurna dan menyelamatkan semua mahkluk. Berbahagialah, suatu hari dalam kehidupan mendatang engkau akan mencapai sumpahmu."

Setelah itu Guru Dipankara memandang gadis yang sedang berlutut di sisi Megha dan berkata kepadanya, "Engkau akan menjadi sahabat terdekat Megha dalam kehidupan ini maupun banyak kehidupan mendatang. Ingatlah untuk menepati janjimu. Engkau akan membantu suamimu merealisasikan sumpahnya."

Megha dan gadis itu tersentuh mendalam sekali oleh kata-kata sang Guru. Mereka membaktikan diri untuk mempelajari jalur menuju pembebasan yang diajarkan Yang Tercerahkan, Dipankara.

Anak-anak dalam kehidupan ini dan banyak kehidupan selanjutnya, Megha dan gadis itu hidup sebagai suami dan istri. Sewaktu sang suami harus pergi guna menelusuri jalur spritualnya, si istri membantunya dalam segala cara yang ia mampu. Tak pernah ia mencoba mencegahnya. Oleh sebab itu, dia merasa bersyukur yang paling dalam kepada istrinya. Akhirnya, berhasillah ia merealisasikan sumpahnya dan menjadi manusia yang mencapai penerangan sempurna, seperti yang diramalkan Guru Dipankara di banyak kehidupan sebelumnya.

Anak-anak, uang dan kemasyhuran bukanlah yang terpenting dalam kehidupan. Uang dan kemasyhuran bisa hilang cepat sekali. Pengertian dan cinta-kasih adalah hal terpenting dalam kehidupan. Jika kalian memiliki pengertian dan cinta-kasih, kalian akan tahu kebahagiaan. Berkat pengertian dan cinta kasih masing-masing. Megha dan istrinya saling berbagi kebahagiaan di banyak kehidupan. Dengan pengertian dan kasih sayang, tiada yang tak bisa kalian selesaikan.

Yasodhara beranjali dan membungkuk hormat kepada Buddha. Dia begitu tersentuh hingga menitikkan air mata. Ia tahu meskipun Sang Buddha menuturkan kisah itu kepada anak-anak, tapi sesungguhnya kisah itu secara khusus ditujukan kepada dirinya. Itu adalah cara Beliau menghaturkan terima-kasih kepada dirinya. Ratu Prajapati menatap Yasodhara. Dia pun paham mengapa Sang Buddha menceritakan kembali kisah ini. Dia lalu meletakkan tangannya ke atas pundak menantunya dan berkata kepada anak-anak, "Tahukah kalian siapa Megha dalam kehidupan ini? Beliau adalah Buddha. Dalam kehidupan kali ini, Beliau menjadi orang yang mencapai penerangan sempurna. Dan tahukah kalian siapa istri Megha dalam kehidupan kali ini? Dia tak lain tak bukan adalah Putri Yasodhara kalian. Berkat pengertiannya, Pangeran Siddharta bisa menelusuri jalurnya dan mencapai kebangkitan. Sudah sepantasnya kita menghaturkan terima-kasih kepada Yasodhara."

Lama sudah anak-anak mengasihi Yasodhara. Sekarang mereka berpaling ke arahnya lalu membungkuk hormat kepadanya untuk menyatakan seluruh kasih yang ada di dalam lubuk hati mereka.

Semoga kisah ini bisa membawa keteladanan bagi kita semua, sesungguhnya jodoh adalah izin dan karunia-Nya. Postingan ini diterbitkan melihat kasus-kasus poligami, nikah siri dan perselingkuhan yang sering muncul di media. Semoga dapat menumbuhkan imam pembaca.

Di ambil dari buku "Jalur Tua Awan Putih".

9 Maret 2009

Vegetarian

Vegetarian telah menjadi trend pada jaman modern sekarang ini, dan telah menjadi salah satu gaya hidup masa kini. Beberapa yang vegetarian karena alasan kesehatan, namun sebagian besar menjalani vegetarian karena kepercayaan pada suatu ajaran agama, dan bahkan tidak sedikit yang sampai berpuasa dalam suatu jangka waktu tertentu.

Berikut isi dari kitab agama Buddha yaitu Kotbha II yang merupakan dharma yang pernah diajarkan oleh Buddha Sakyamuni pada masa itu:

"Aku akan mengajarkanmu jalan tengah. Mengenakan pakaian berbahan kasar dan kotor, membiarkan rambutmu panjang dan kusut, tidak makan daging atau ikan, semua itu tidak bisa membersihkan kekotoran batin seseorang. Menyiksa tubuh secara berlebihan tidak membawa kemenangan atas indera. Semua penderitaan yang dibebankan pada diri tidaklah berguna selama perasaan akan diri masih dominan"

"Hilangkanlah keterlibatanmu sesuai dengan diri dan makan minumlah secara alami sesuai kebutuhan tubuhmu. Kemelekatan terhadap nafsu makan - entah engkau menghilangkan atau menurutinya - dapat membawa kepada perbudakan"

"Memenuhi kebutuhan sehari-hari tidaklah salah. Tentu saja, menjaga tubuh tetap sehat merupakan suatu kewajiban. Jika tidak, pikiran tidak dapat tetap kuat dan jernih. Inilah yang disebut Jalan Tengah"

source : Kotbha II

Kemudian berikut tanggapan dari aliran Buddha Falun Gong tentang vegetarian seperti yang diterjemakan dalam buku Zhuan Falun :

..Makan atau tidak makan daging itu sendiri bukan merupakan tujuan, menyingkirkan keterikatan hati tersebut adalah titik krusialnya.

..Apakah dengan jadi vegetarian sudah dapat berkultivasi Buddha? Anda tahu, bahwa makan daging hanya merupakan suatu keterikatan manusia, nafsu keinginan, semata-mata satu keterikatan ini, hanya menyingkirkan satu keterikatan ini. Masih perlu menyingkirkan juga perasaan cemburu, nafsu bersaing, perasaan puas diri, mentalitas pamer, berbagai macam keterikatan hati, keterikatan hati manusia adalah banyak, segala keterikatan hati yang ada, berbagai macam nafsu keinginan, semua harus disingkirkan, dengan demikian baru dapat mencapai kesempurnaan Xiulian. Bagaimana mungkin hanya menyingkirkan keterikatan makan daging, lalu dapat berkultivasi Buddha? Anggapan tersebut tidak benar.

source : Zhuan Falun, Ceramah VII - Masalah Makan Daging.

Jadi, penulis mengambil kesimpulan bahwa tidak ada agama yang melarang umatnya untuk berpantang makan daging (vegetarian), anggapan melaksanakan vegetarian dapat mencuci dosa adalah suatu tanggapan yang salah, bagaimana pun juga seperti kutipan diatas, tubuh manusia tetap memerlukan makanan baik itu daging, tumbuhan, susu, dan sebagainya untuk mencukupi nutrisi tubuh.